Jumat, 29 Mei 2009
Solo Bersholawat
Kurang lebih pukul 8 malam rombongan Syeikh Hisyam hadir di majlis bersamam Habib Syaikh dan tamu-tamunya Syaikh Hisyam diantaranya ada yang dari Iran, Pakistan, Eropa dan jamaah beliau di Indonesia yaitu Al Haqqani Jakarta. Sungguh bergetar ketika aku melihat wajah-wajah orang bule yang soleh. bersinar wajah-wajah mereka karena mencintai Rosululloh SAW. Suara rebana bersautan mengiringi kumandang Sholawat yang keluar dari mulut-mulut hamba Alloh yang mencintai Rosululloh SAW dalam rangka menyambut kedatangan tamu-tamu Rosululloh SAW.
Setelah para tamu duduk di panggung kehormatan alunan sholawat dan syair-syair dikumandangkan, para jama'ah melantunkan juga bakhan banyak dari mereka yng hafal walaupun ada juga yang tidak tahu arti apa yang mereka baca, tetapi berkat cinta mereka terhadap Rosul banyak yang meneteskan air mata seakan akan Rosul hadir dihadapan mereka. Tanpa aku sadari aku juga meneteskan air mata ingat akan dosa-dosaku, seakan-akan aku ini hina sekali dihadapan Allah dan Rosulnya. apalagi pas mahalul Qiyam terasa sekali hadirnya Ruh Rosululloh SAW.
Selesai sholawat Syaikh Hisyam memberikan tausiyahnya yang lansung disiarkan melelui internet ke seluruh penjuru dunia, oleh karena iti beliu menggunakan bahasa Arab dan Inggris dan di terjemahkan oleh murid beliau dengan bahasa Indonesia. Diantaranya tausiahnya beliau berpesan bahwa Rosululloh SAW cinta terhadap orang yang tidak hidup di zaman beliau tapi percvaya dan cinta terhadap Rosul, dan Rosul rindu kepada mereka, kemudian beliau juga mengungkapkan bahwa setetes air mata yang menetes ketiak menyebut Rosululloh SAW akan menyebabkan api neraka tidak menjilatnya. Diriwatkan ada seorang A'robi (badui) tanya sama rosul tentang kapan hari Kiamat, rosul menjawab ," apakah yang akan enkau persiapkan untuk mrnghadapinya, badui itu menjawab , " aku tidak punya bekal apa-apa kecuali aku cinta kepadamu wahai rosul," cintanya badui tadi terhadap rosul akan menyebabkan keharoman api neraka menjilatnya,
Kemudian beliau mengajak kepada jamaah untuk ingat akan 2 perkara yang agung yaitu, adanya surga dan neraka, serta untuk bersegera bertaubat kepada Alloh SWT kalau mengaku sebagai umat Muahammad dan cinta kepada beliau, bahkan beliau mengisahkan Nabi Dawud AS pernah melakukan kesalahan, kemudian beliau bertaubat kepada Alloh sampai lupa makan dan mengasingkan diri ke hutan dan bersama-sama para binatang beristighfar kepada Alloh, begitu juga Rosululloh SAW melakukan sholat amalam sampai bengkak dan keluar darah telapak kaki beliau, walaupun beliau sudah ma'sum dan diampuni dosa yang akan datang dan dosa yang dahulu.
di akhir acara Habib Syaikh mengucapkan terima kasih kepada Syaikh Hisyam dan semua pihak yang membantu terlaksananya acara tersebut, dan diakhiri dengan do'a dari Simbah Kyai Salman ( Mursyid Thoriqoh Naqsabandiyah dari Popongan Klaten), walaupun suara beliau tidak kedengaran tapi banyak jama'ah yang meneteskan air mata, itu berkat daripada keiklasan beliau dalam bermunajat kepada Allaoh swt. Kemudian do'a diteruskan oleh Habib Syaikh bin Abdul Qodir Assegaf.dan diakhiri denagn Fatihah oleh Syaikh Hisyam Al; Ka'baniy.
Senin, 04 Mei 2009
Pentingnya bermadzhab dalam Islam

Pengajian Ahad Pagi, 3 Mei 2009 di masjid Baitul Muslimin Klaten
Artinya:” Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambanya, hanyalah ulama”
Jadi ulama adalah salah satu di antara hamba-hamba Allah yang memiliki rasa takut kepada Allah. Pada sisi mereka tempat mengadu segala permasalahan umat baik permasalahan dunia maupun akhirat. Karena para ulamalah yang tahu dan mengerti sesuatu tentang hal tersebut. Maka Allah SWT memerintahkan kita untuk bertanya kepada ulama apabila kita tidak tahu, seperti firman Allah dalam Surat An-Nahl ayat 43:
Artinya:”Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengerti”
Ayat tersebut mengandung pengertian bahwa setiap manusia yang merasa dirinya tidak tahu atau belum mengerti akan sesuatu, lebih-lebih hukum syari’at wajib hukumnya uintuk bertanya kepada seseorang yang lebih mengerti yaitu ulama.
Ulama-ulama yang dimaksud disini adalah para ulama ahli ijtihad, bukan semua ulama atau sering disebut sebagai ulama madzhab. Madzhab sendiri artinya adalah jalan. Dalam masalah agama sering disebut aliran. Sebenarnya banyak sekali aliran dalam Islam sejak masa sahabat dan munculnya perbadaan pendapat dalam masalah cabang agama. Setiap pendapat lalu disebut dengan istilah madzhab. Maka dahulu pada zaman sahabat ada madzhab Aisyah, madzhab Abdullah bin Umar, madzhab Abdullah bin Mas’ud dan lain-lain.Sampai pertengahan abad ke empat muncul sampai 13 madzhab yang terkenal dan pendapat mereka dikuatkan oleh para pengikut mereka, termasuk di dalamnya madzhab empat yang populer yaitu Madzhab Hanafi, Madzhab Maliki, Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hambali.Selanjutnya madzhab empat tadi sampai sekarang mendapat perhatian intelektual dari para pengikutnya.
Lalu sekarang muncul pertanyaan bagaimana hukumnya bermadzhab bagi orang awam? Bagi orang awam bermadzhab adalah hukumnya wajib. Alasan –alasan mengapa hukumnya wajib adalah sebagai berikut:
1. Memang tidak ada perintah yang shorih atau jelas mengenahi wajibnya bermadzhab, namun ada Kaidah fiqhiah yang mengatakan:
مَا يَتِمُّ الْواَجِبَ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ اْلوَاجِبُ
Artinya: Apa yang mestinya ada sebagai perantara untuk mrncapai hal yang wajib, maka hukumnya menjadi wajib.
Sebagai contoh misalnya kita membeli air, apa hukumnya? Tentunya hanya mubah atau boleh, namun apabila kita akan sholat fardlu, kemudian tidak ada air, dan yang ada hanyalah air yang harus dibeli dan kita punya uang, maka apa hukumnya membeli air?. Hukum membeli air berubah dari mubah menjadi wajib, karena perlu untuk sholat yang wajib.
Demikian pula halnya dalam syariah hukum Islam tidak wajib mengikuti madzhab, namun karena kita tidak mengetahui samudra syari’ah yang sangat luas dari seluruh madzhab dan kita hidup 14 abad setelah wafatnya Rosul maka kita tidak mengenal hukum ibadah kecuali menelusuri fatwa-fatwa para imam ahli hadits zaman dahulu maka bermadzhab hukumnya menjadi wajib.
2. Bagi orang awam bermazhab hanyalah semata untuk memudahkan mereka mengikuti ajaran agama, sebab tidak mungkin mereka mencari sendiri didalam Al Qur’an dan hadits, Bisa dibayangkan bagaiman sulitnya orang awam mempelajari semua ajaran agamanya melalui Al Qur’an dan hadits.Sebab kita ini masih buta akan ilmu-ilmu yang harus di miliki oleh seorang mujtahid (orang yang bersungguh-sungguh menggali hukum dari sumbernya yaitu Al Qur’an dan Hadits), seperti ilmu Musthlahul Hadits, Ushul Fiqh, ilmu Tafsir, hadits-hadits hokum, ayat-ayat Nasikh dan mansukh, Bahasa Arab, Filsafat hukum Islam dll. Sebagaiman sabda Rosululloh SAW:
مَنْ فَسَّرَ الْقُرْآنَ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
Artinya: Barangsiapa menafsiri Al Qur’an dengan pendapatnya sendiri maka nerakalah tempat yang cocok baginya.
Jadi apabila kita menemukan permasalahan tentang suatu hukum, jangan kita menjawab sebisanya biar dikatakan sebagai orang yang ’alim, sementara kita belum mempunyai ilmu-ilmu yang harus dimiliki oleh seorang mujtahid.
Sebagai contoh pentingnya madzhab adalah sebagai berikut: ada dua orang namanya Zaid dan Umar setelah keduanya wudlu kemudian ke pasar, keduanya membeli sesuatu dan menyentuh perempuan. Lalu keduanya akan sholat, Zaid wudlu sedangkan Umar tidak wudlu, Zaid tanya sama Umar,” Kenapa kamu tidak wudlu?” Bukankah tadi kamu menyentuh perempuan, Umar menjawab,”aku bermadzhabkan Maliki,” Zaid berkata,” Wudlumu tidak sah dalam Madzhab Maliki dan tidak sah pula dalam Madzab Syafi’i, karena dalam madzhab Maliki wudlu harus menggosok anggota wudlu, tadi wudlumu hanya menngusap saja, jadi kamu berwudlu menggunakan cara Syafi’i giliran bersentuhan dengan wanita kamu menggunakan madzhab Maliki, Maka bersucimu tidak sah secara Maliki dan telah batal menurut Syafi’i.
Demikian contoh kecil dari kebodohan orang yang mengatakan madzhab tidak wajib.lalu siapa yang bertanggung jawab tentang wudlunya tadi, Ia butuh sanad yang harus dipegang pada sunah nabi SAW dalam wudlunya, sanadnya bertemu pada Imam Syafi’i atau Imam Malik? Atau pada lainnya ? atau tidak berpegang pada salah satu seperti contoh di atas.
Dan berpindah-pindah madzhab tentunya boleh asalkan sesuai dengan situasinya, apabila kita pindah ke daerah malikiyyun maka tak sepantasnya bersikukuh dengan madzhab Syafi’inya.
Demikian pula kita di Indonesia wilayah Syafi’iyyun tak sepantasnya kita bersikeras mencari madzhab lain.
Contoh lain dalam masyarakat kita Indonesia meskipun ada kelompok yang mengklaim tidak menggunakan madzhab namun dalam praktiknya tetap saja cara ritual ibadahnya cenderung mengikuti Syafi’i karena melalui madzhab ini bangsa Indonesia mengenal Islam. Masyarakat Saudi juga demikian walaupun mereka mengklaim tidak bermazhab namun dalam praktiknya menerapkan madzhab Hanbali.karena masyarakatnya mengenal Islam melalui Madzhab Hanbali.
Untuk itu marilah kita senantiasa dekat dengan para ulama. Karena merekalah orang-orang sholeh yang akan menuntun kita untuk dekat rob kita. Dan semoga kita nanti di Akhirat akan berkumpul bersama mereka karena Rosululloh mengatakan bahwa :
اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ اَحَبُّ
Seseorang nanti di akhirat bersama orang yang dicintainya
.
Jadi penting sekali peranan ulama dalam menyampaikan risalah-risalah dari Rosululloh SAW. Sehingga kita bisa meneladaninya, dan semakin lama ulama tadi tidak semakin banyak tapi semakin sedikit , Hal ini dapat kita lihat ulama yang kharismatik dan mempunyai ilmu yang tinggi sudah banyak yang dipanggil oleh Allah SWT. Kalau ulama sudah banyak yang diambil maka sebagai pertanda akan dicabut ilmu yang diberikan Allah pada hambanya, sebagaimana sabda Rosululloh SAW:
عَنْ عَبْدِاللهِ ابْنِ عَمْرٍوبْنِ الْعَاصِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ اْلعِلْمَ اِنْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لمَ ْيُبْقِ عَالِمًا اِتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوْساً جُهَّالاً فَسُئِلُواْ فَافْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا .
Artinya: Dari Abdullah bin Amr bin Ash berkata: aku mendengar Rosululloh SAW berkata: Sesumgguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari hamba-Nya kecuali dengan wafatnya para ulama, sehingga orang-orang yang bodoh menjadi kyai (kepala), maka ketika mereka ditanya suatu masalah menjawab dengan tanpa didasari ilmu, maka tersesatlah dan menyesatkan.
Semoga ada manfaatnya Waallohu a’lam.
Daftar Pustaka
1. Qur’an in Word Ver 1.0.0 Digital , moh.taufiq@gmail.com
2. A. Ma,ruf Asrori & M.Rofiq Zakaria, Khotbah Jumat Aktual, alMiftah Surabaya hal 66. cet 1998
3. http://majlisrosulullah.org oleh Habib Mundzir Al Musawa.
Senin, 27 April 2009
Para habaaib yang memberi khotbah di Haul 2009
Habib Thohir bin Abdulloh Al Kaf Tegal
( yang memberi tausiyyah pada Haul 2009 )
Beliau Alumni Abuya Sayyid Muhammad Al Maliky,Makkah dan juga teman akrab dari guruku Abah Thoyfur Purworejo.
Al Habib Alwy bin Ali bin Alwy bin Ali Al Habsyi( yang membacakan Biografi Habib Ali dalam bahasa Arab)
beliau juga guru saya ketika pertama kali aku masuk kota Solo, saya ngaji Kitab Busrol Karim pada beliau
Selasa, 21 April 2009
Haul Habib Ali Al Habsyi Solo

Setelah aku mengajar segera aku mempersiapkan hidangan untuk para tamu agungku, aku pesen sate dan gule di salah satu warung terkenal di Gading. dan beli kue brownis di Laweyan tak lupa aku beli buah semangka dan jeruk.
Aku kemudian menghubungi Habib Ali Al Qutban ( pengasuh majlis Ta'lim Riyadhus Sholohin,Kedungjati,Bukateja,Purbalingga, beliau juga murid ustad Thoifur) untuk mampir ke rumahku tapi ternyata beliau ada acara di Bukateja dan tidak bisa mampir, saya hanya minta di doakan beliau.
Ketiaka aku hadir di majlis Haul sudah penuh para hadirin yang datang dari penjuru tanah air bahkan dari luar negeri. Pada haul kali ini (2009) dihadiri oleh Habib Umar bin Hafidz( pengasuh Darul Musthofa, Tarim, hadromaut) beliaujuga guru dari para habaiib di Solo seperti Habib Alwi bin Ali Al Habsyi, Habib Nabil bin Najib Assegaf, Habib Umar Assegaf, habib Sholeh Al Jufri. Acara demi acara berlalu, yang pertama sambutan dari shohibul bait,kedua pembacaan biografi Habib Ali Al habsyi dalam bahasa Arab oleh Habib Alwi, kemudian ditrjemahkan, ketiga tausyiyah oleh Habib Umar bin Hafidz dan diterjemahkan oleh Habib Jindan dari Jakarta, keempat Tasyiyah Habib Thohir Al Kaf,Tegal (alumni Abuya Sayid Muhammad Al Maliki) kemudian terakhir adala doa.
Selesai acara aku langsung nemui Abah Thoifur di Masjid Maryam yaitu masjid yang di imami oleh temanku satu pondok dan alumni abah juga nama Pak Ijam (zamroni) , aku langsung menemui satu persatu tamu yang bersama Abah, bersalaman dan mua'naqoh.Mereka adalah Pak Asmu'i, Pak Ashuri ( keduanya adik abah Thoifur), Abah Hasyim, Ustad Yusuf, Ustad Hamid, ustad Ayub, Ustad Abdurrohman, mas Alfan dan yang lainnya adalah para alumni Habib Salim dari Jakarta, di antaranya ada seorang Habib.
Di mulut gang Masjid Maryam aku stater motorku dan kubonceng guru besarku Abah Thoifur untuk mampir di masjid Maryam. sampai di tempat ketemu dengam pak Ijam aku lansung pamit pulang untuk menyiapkan hidangan.
Sampai di rumah aku minta bantuan kepada shohibul bait yang aku tempati yaitu bapak Sukamat dan mas Munir untuk membantu penyambutan tamuku, tak berapa lama tamukiu datang dengan mengendarai dua buah mobil dan langsung parkir di gang depan rumahku, aku langsung mempersilakan beliau untuk masuk, dan hidangan langsung aku keluarkan, sambil menyantap hidangan aku perkenalkan shohibul bait kepada abah, dan beliau kemudian menitipkan aku kepada pak Kamat.
Selesai menyantap hidangan Abah Thoyfur berdo'a dan akupun mengamininya dengan penuh kemantapan dan keyakinan, karena yang berdo'a adalah seorang hamba Alloh yang sudah terbukti kesholehannya dan patut untuk dijadikan suri tauladan bagi semua santri pada khususnya dan umat Islam pada umumnya.
Diantara do'a beliau yang masih aku ingat diantaranya: semoga aku dan keluarga diberi manfaat dari ilmu dan rumahku selalu digunakan untuk ngaji, diberi kemudahan rizqi, yang halal dan barokah, bisa ziarah ke Makkah Madinah, dan kampung Debegan dijadikan kampung yang kuat Islamnya.dan ditutup dengan sholawat dan surat Al-Fatihah
Setelah selesai do'a beliau pamit,aku mengucapkan terima kasih dan aku menghantarkan beliau dan rombongan sampai ke mobil.Alhamdulillahirobbil 'aalamiin aku lega dan puas hari ini bisa menjamu tamu-tamuku yang penuh membawa keberkahan dan kebaikan untuk semua, serta lebih menghidupkan ghiroh da'kwahku di kota Solo ini. Sukron 'ala husni ihtimamikum waziarootikum ayyuhas Syaikh Al-Murobbi Al-'Allamah Al-Mukarrom Al-Ustadz MuhammadThoyfur bin Mawardi.
Selasa, 25 November 2008
Darut Tauhied Purworejo

Setelah aku menyelesaikan pendidikan formal di SMA N 1 Purworejo tahun 1993, aku masuk Pesantren daarut tauhid kedungsari purworejo tahun 1994, Pesantren tersebut di asuh oleh ustadz Muhammad Thoyfur Mawardi beliau adalah alumni Abuya Sayyid Muhammad bin Alwy Al Maliky di Rusyaifah Makkah Al Mukaromah,Selama satu tahun aku menjadi santri biasa seperti teman teman lainnya. kemidian aku mulai mendekati dalem ustadz untuk berkhidmah pada beliau, tugasku diataranya mengantar putra-putra beliau sekolah di MI Imampuro Cangkrep (Sahnun, Qosim,Alawi dan Arwa), aku juga sering cuci piring dan menimba air dari sumur dalem, melayani tamu, belanja ke pasar Balidono, mencari Kates untuk dijadikan manisan, cari kayu bakar dan lain lain . Teman-temanku kala itu yang satu kamar denganku yaitu kang Rohmat Jin, Munir, Nurwahid, Abdul Ghofur, Imam Muhyidin, Kang Muhyidin (almarhum).Kamar yang kami tempati adalah kamar "PlanggrocK", Sebuah gubug dari bambu yang merupakan cikal bakal Pondok Pesantren Daarut Tauhied Kedungsari Purworejo. Banyak sekali suka duka dan kenangan-kenangan indah yang kami ukir di sana, waktu itu (1995) jumlah santri kurang lebih 1oo orang.Kehidupan di planggrok sangatlah damai walaupun kami hidup serba kekurangan bila dibanding dengan santri-santri lainnya.Pagi-pagi setelah sholat subuh dan wiridan masing masing dari kami menyelesaikan tugasnya, setelah beres baru kami ngaji ke khadrotus Syaikh dan ikut madrasah.Pada tahun 1998 aku ditugaskan oleh Abah (panggilan kami kepada K.H.Thoyfur Mawardi)untuk tinggal dan berkhidmah kepada istri beliau di seringin ( wilayah desa Kedungsari bagian timur) disana beliau diberi sebidang tanah dan didirikan mushola, kemudian aku bersama Khotib Aljabiri(banyuwangi),Rusli(Kemiri),Qoyum(Bayan), Imam Muhyidin(Smrg) mendirikan Planggrok yang kami minta dari warga bekas mushola yang sudah tidak dipakai. Di planggrok yang kedua ini keilmuanku kembali terasah karena teman-temanku rajin sekali belajarnya,bahkan sampai larut malam kami sering berdiskusi masalah masalah agama.Temanku yang paling rajin sinau adalah Ahmad Khotib Al Banjuwanji (baca: Banyuwangi) atau dia sering nyebut dirinya Aljabiri karena mbahnya namanya Jabir.Suka duka kami alami bersama,cari kayu bakar, masak bareng,mbladogi kayu,macul,momong putranya khadrotus Syaikh dll. Aku di Seringin selama 4 tahun (1998-2002). Kemudian aku meneruskan ngaji ke Solo yaitu Ke PPTQ Masjid Agung Surakarta.Ini adalah awal mula aku berada di kota Solo sampai sekarang.







